Skip to content

Motivasi yang Benar Mendorong Tindakan yang Benar

September 17, 2014

Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. Kolose  3:23

Dalam pekerjaan yang menjadi bagian kita, prinsip bekerja dengan sikap hati yang benar, yaitu ‘segenap hati seperti untuk Tuhan’ seharusnya menjadi pegangan bagi setiap orang percaya.

Motivasi yang benar mendorong kita melakukan hal yang benar. Hal ini berarti, kita perlu memiliki nilai-nilai yang benar sebagai aplikasi sikap hati kita, Bertanggung jawab dengan apa yang menjadi tugas kita, melakukannya dengan setia dan memiliki disiplin diri. Kita tidak bisa hanya berkata, “Ah, yang penting motivasi saya sudah benar yaitu bekerja dengan sepenuh hati”. Betul bahwa segenap hati menjadi dasar, namun ingat bahwa dasar yang benar menghasilkan tindakan yang benar.

Jika kita berkata bahwa “Saya bekerja dengan sepenuh hati”, namun kita tidak menggunakan waktu dan kesempatan kerja kita dengan baik, maka perlu menjadi evaluasi diri, benarkah sudah sepenuh hati atau masih setengah hati? Seperti komputer yang memiliki slogan GIGO (Garbage In Garbage Out), demikian pula hidup orang percaya dalam melakukan pekerjaan. Jika motivasi kita sudah benar, seharusnya hasil yang kita capai pun maksimal, dan nilai-nilainya benar. Mari bertanya pada diri sendiri, “Apakah selama ini, motivasi kerja saya sudah benar, dan nilai-nilai yang saya aplikasikan sudah benar?”  (Uut)

Bekerja untuk Tuhan

September 15, 2014

Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.Kolose 3:23

Bekerja adalah bagian penting dalam hidup. Bagi orang percaya bekerja bukan hanya sarana untuk mendapatkan uang, tetapi juga sebagai sarana untuk belajar, aktualisasi diri dan bersaksi tentang kebaikan Tuhan. Untuk itu dibutuhkan sikap hati yang benar dalam bekerja. Ingatlah bahwa pekerjaan yang kita dapatkan sekarang adalah anugerah Tuhan. Oleh karenanya perlu disyukuri, dan dikerjakan dengan sungguh-sungguh seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.

Menghadirkan Tuhan dalam pekerjaan, akan membuat kita berhasil dalam segala hal, menemukan jalan keluar saat tiada jalan, menjadi kepala dan bukan ekor, terus naik dan tidak pernah turun. Oleh karenanya marilah kita mengawali pekerjaan kita dengan berdoa, mohon pimpinan, hikmat dan penyertaan Tuhan, sehingga pekerjaan kita dikerjakan dengan segenap hati didasari kasih dan ketaatan kepada Tuhan, dilindungi Tuhan dan diberkati dalam segala hal, bisa menikmati hasilnya dengan sukacita dan damai sejahtera yang melampaui segala akal. (Bayu)

Mendidik Anak dengan Takut akan Tuhan

September 11, 2014

Haleluyah !  Berbahagialah orang yang takut akan TUHAN, yang  sangat suka kepada segala perintahnya. Anak cucunya akan perkasa  di bumi. angkatan orang benar akan di berkati.Mazmur 112:1,2

Menjadi orang tua adalah tanggung jawab yang sangat besar dalam mendidik , melatih, mendisiplinkan dan punya komitmen yang serius. Anak-anak adalah anugrah besar, warisan dan anak-anak itu sendiri adalah simbol kerajaan ALLAH. Untuk itu sebagai orang tua yang tidak sempurna perlu membutuhkan pertolongan ALLAH dan cara ALLAH lah adalah yang terbaik. Orang tua yang takut  akan TUHAN,   ALLAH menjanjikan terobosan besar, menjamin keberhasilan anak dan di berkati. (Indro Cahyono)

Keteladanan Bukan Hanya Sekedar Kata-Kata

September 11, 2014

Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanyapun  ia tidak akan menyimpang dari jalan itu. Amsal 22:6

Tugas orang tua adalah mendidik anak-anak sejak kecil bukan hanya sekedar kata-kata tetapi lebih dari itu yaitu keteladanan, karena seorang anak cenderung cepat melihat dan menirukan apa yang dilakukan orang tuanya

Jika kehidupan orang tuanya buruk, maka anak akan bertumbuh lebih buruk, sebaliknya jika orang tua memberi teladan yang baik, anak akan bertumbuh menjadi pribadi yang lebih baik.

Jadilah teladan bagi anak-anak dalam perkataan, tingkahlaku, dalam iman, dalam kasih, dan dalam kesucianmu. (Indrayani)

Sukacita Orangtua

September 9, 2014

Didiklah anakmu, maka ia akan memberikan ketenteraman kepadamu, dan mendatangkan sukacita kepadamu.  Amsal 29:17-18 

Di jaman sekarang ini, banyak anak hidup dalam keprihatinan. Membunuh teman sekolahnya, mengkonsumsi narkoba, merokok, jatuh dalam pornografi, dan hal-hal lain yang bisa membuat telinga kita memerah saat mendengar kejahatan yang bisa anak-anak lakukan.

Joyce Meyer menulis “If  you can help a child, you don’t have to spend years repairing an adult”. Hal ini mengingatkan kita betapa pentingnya mendidik anak yang Tuhan percayakan kepada kita, baik itu anak secara fisik, maupun anak didik atau anak rohani.

Mendidik anak dalam kasih Ilahi membentuk seorang anak menjadi pribadi yang penuh kasih. Dalam kepribadian yang penuh kasih, ia akan melakukan kebenaran. Ketika anak-anak hidup benar, hati orangtua pun tenteram dan penuh sukacita, karena orangtua percaya bahwa di masa depannya, ia akan menjadi orang dewasa yang bertanggungjawab dan tidak mudah melakukan kejahatan. (Uut)

Gunakan Waktumu dengan Bijaksana

September 5, 2014

dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat.Efesus 5 : 16

Waktu adalah sebuah kesempatan yang diberikan Tuhan. Waktu terus berjalan, jika terlewat maka tidak ada cara untuk kembali lagi. Yang ada hanya penyesalan dan kekecewaan.  Dengan apa anda mengisi waktu pemberian Tuhan? Hal baik atau buruk? Hal yang penting atau tidak penting? Hal yang bersifat sementara atau kekal? Sikap kita terhadap waktu, menentukan kesuksesan hidup kita.

Oleh karenanya pergunakanlah waktu dengan bijaksana untuk lebih mendekatkan diri pada Tuhan, mengutamakan yang penting dan bersifat kekal. Mencari kerajaaan Allah dan kebenaranNya, sehingga hidup kita menjadi bermakna, berhasil, dan diberkati Tuhan. (Bayu)

Menunda Merugikan Diri Sendiri dan Orang Lain

September 3, 2014

“Jika kita berlambat-lambat, maka tentulah kami sekarang sudah dua kali pulang” Kejadian 43:10

Sikap “menunda”, atau “mengabaikan” waktu sering kali merugikan diri sendiri, jelas selain rugi waktu, hasil yang kita kerjakan pastilah lebih sedikit dan hasilnya juga kurang memuaskan, di bandingkan dengan jika kita tidak berlambat-lambat untuk melakukannya,

Dampak negatif untuk diri sendiri, jika itu sering dilakukan, akan menjadi kebiasaan, dan kebiasaan akan menjadi karakter. Reaksi-reaksi dari orang lain, jika sering berlambat-lambat, akan memunculkan ketidak kepercayaan dan penghakiman. Untuk itu, ayo jangan dibiasakan untuk menunda dan mengabaikan waktu, dan jangan berlambat-lambat, karena akan merugikan diri sendiri dan orang lain. (Indrayani)

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 57 other followers